Bersepeda Ke Taman

Suasana Cibeunying Park
Suasana Cibeunying Park di Hari Minggu Pagi/alifiharafi.com

Sesekali pada hari Sabtu atau Minggu pagi, saya dan teman saya bersepeda kearah Dago sambil melewati beberapa taman Kota Bandung. Kami berangkat dari rumah masing-masing menggunakan sepeda. Nah, karena berangkat dari rumah, kami harus melewati jalan raya Soekarno-Hatta yang macet karena padatnya kendaraan yang berseliweran disana, pasar kaget yang berjajar dipinggir jalan, dan lampu lalu lintas diperempatan SAMSAT yang lamanya bisa sampai 300+ detik. Terkadang kami juga mau tidak mau harus bisa nyalib Bis DAMRI yang suka mendadak berhenti.

Namun, dibalik hal itu semua ada hal yang membuat senang juga. Setiap kali diperjalanan bertemu dengan pesepeda lainnya, kita saling sapa dan tebar senyum. Dan yang paling sering menyapa justru pesepeda yang sudah terlihat tua, kakek-kakek. Jadi bawaannya tambah semangat gowes bray. 🙂

Saya sempat membicarakan hal ini dengan teman saya, “bro, kalau naik sepeda seneng ya.. beberapa kali kita bersepeda, pasti aja banyak yang kasih senyum“. Lalu teman saya menjawab, “iya dong enak, daripada naik motor atau mobil, disapanya tutatitittt… tutatitittt… tapi ya ini kan hanya berlaku hari Sabtu, Minggu aja.. Senin sampai Jum’at kita dapet tutatitittt.. tutatitittt… juga“. Kami pun tertawa sejenak.

Selanjutnya kami memilih rute melewati flyover Kiara Condong. Naik keatas flyover dengan jalanan yang menanjak, lalu turun dengan senangnya karena sepeda melaju dengan sendirinya tanpa harus di gowes, hehe..

Sesampainya di depan Taman Lansia kami memutar arah ke Cilaki, mencari sarapan pagi favorit teman saya, yaitu Nasi Tim. Namun, di hari Minggu disepanjang jalan tersebut tidak ada yang berjualan satu pun. Dulu pernah sarapan pagi Nasi Tim di Cilaki pada hari Sabtu, khusus hari Minggu di Cilaki tidak boleh ada yang berjualan. Namun pada akhirnya keinginan teman saya yang ingin menyantap Nasi Tim terpenuhi juga di Cihapit. 😀

Setelah selesai sarapan kami kembali lagi gowes ke Taman Cibeunying atau Cibeunying Park yang tidak jauh lokasinya dari Taman Lansia.

Sesampainya disana teman saya ini langsung turun dari sepeda, membuka sepatu dan berjalan-jalan dipinggir Taman Cibeunying dengan kaki telanjang, untuk sekedar refleksi dengan cara menginjakkan telapak kaki dibebatuan-bebatuan kecil yang ada dipinggir taman tersebut.

Lalu saya pun mengikutinya berkeliling diatas bebatuan sambil menyimak lingkungan sekitar Taman Cibeunying yang berubah. “Tulisan Cibeunying Park-nya pindah ya.. dan sudah engga ada sekatnya, dulu itu seperti ada sekat sama pohon, soalnya ingat kita kan dulu pernah sempat foto bareng ditulisan itu tapi posisinya disebelah sana“, ujar teman saya. Saya awalnya tidak sadar ada perubahan posisi tulisannya, karena terakhir kali berkunjung sebelum bulan puasa, sudah cukup lama. Lebih jelasnya bisa melihat perpindahan posisi tulisannya pada foto diatas.

Pagi pun sudah hampir terlewati, yang awalnya berencana pergi ke Dago batal karena kita pergi kesiangan, hehe.. dan saya pun tidak bisa berlama-lama menikmati momen-momen ketika pancaran cahaya matahari pagi yang hangat meresap kekulit karena ada jadwal piket di kantor. Kami pun kembali pulang kearah kantor dengan badan yang terasa lebih bugar dan bersemangat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.